Minggu, 31 Mei 2020

Start Your Day With Basmallah

     Segala sesuatu yang baik seyogyanya dimulai dengan basmallah -Bismillahirrohmanirrohiim- " Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" . 

      The simple things, yang maybe sering terlupakan.

     Bukan kah benar dan tidak ada salah jika manusia digambarkan sebagai makhluk (ciptaan Allah sang khaliq) yang saat ini sedang hidup dan ditempatkan di dalam sebuah hutan belantara, untuk mencari bekal sebagai kehidupan setelah keluar dari hutan ?

   Di dalamnya layaknya seorang pekerja yang sedang mencari kayu unggul sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk kehidupan setelah pensiun dari tugas perhutanan. Di dalam nya juga ditemani dengan kesejukan dari lambaian daun-daun yang rindang, kicauan burung yang indah, udara segar, dan sebagainya yang ada dari keindahan hutan. Namun tidak menutup kemungkinan pula, juga ada binatang-binatang buas yang mengintai, dinginnya malam yang menembus tubuh, nyamuk-nyamuk besar yang tidak pernah absen, preman-preman hutan dan kejahatan-kejahatan lain yang ada dalam hutan yang membuat manusia sangat takut, sehingga keindahan yang ada bisa tidak ditemukan di dalamnya. 

       Maka dengan basmallah ketika akan memulai sesuatu kebaikan, diibaratkan dengan perlindungan bagi manusia yang sedang hidup dihutan belantara, manusia tersebut bersandar pada kekuasaan pemilik hutan, sehingga semua kejahatan-kejahatan yang ada tersingkirkan begitu saja. Karena manusia tersebut berjalan dengan dan atas nama penguasa atau pemilik hutan yaitu Allahu Arrahmanu Al Malikul Mulk. 
           
          Sebagaimana efek do'a yang telah diteliti menimbulkan ketenangan qalbu serta rasa optimisme, sehingga pikiran tidak tercemarkan dengan kerisauan , maka basmallah secara tidak langsung juga menghadirkan ketenangan di dalam qalbu dan mengadirkan rasa optimisme. Dan sehingga pula kejahatan yang ada tertutup dan akan tampak lah keindahan- keindahan yang ada.

   Dari lafadz tersebut pula kita memohon keridoaan, bantuan, keberkahan, serta rahmat dari-Nya. 

         So, before we eat we say bismillah, before we work we say bismillah, before we go we say bismillah , etc. start all of activity with basmallah because basmallah in the name of Allah. 

Wallahu a'lam bishowab.. Semoga bermanfaat kardeşlar, saling mengingatkan dan mendoakan ya, bersama-sama kita raih keridoaan Allah 💕.

Kamis, 07 Mei 2020

Nikmat menurut Bediuzzaman Said Nursi

Ketahuilah, andaikan kerajaan ini milikmu tentu kenikmatan yang kau rasakan akan rusak oleh keharusan untuk menjaga dan memelihara, serta oleh rasa was-was. 

Saya dan mungkin kita adalah makhluk yang untuk menjaga diri sendiri saja terasa sulit, rasa was-was silih berganti menghampiri. Melihat bayangan putih dalam kegelapan malam sudah membuat Saya ataupun kita tak berdaya, karena ke-was-wasan itu, padahal bayangan itu hanya sebuah pakaian putih yang tergantung dan lupa untuk diangkat. Lantas bagaimana dengan menjaga kerajaan yang begitu mempesona ini. La hawla wala quwwata illa billah, semua kerajaan adalah milik Allah , tugas kita adalah terus baik dalam hablumminallah dan hablumminannas. Tidak seharusnya kita mengeluhkan, memprotes nikmat yang telah diberikan-Nya. (+me)

Karena, Zat pemberi nikmat yang maha pemurah senantiasa memberikan segala tuntunan nikmat. Yang diserahkan kepadamu hanya izin untuk menikmati dan mengkonsumsi hidangan kebaikan-Nya, berikut rasa syukur yang akan menambah nikmat. Pasalnya syukur adalah melihat pemberian nikmat dalam nikmat yang tersedia.

Hal itu menghilangkan kepedihan akibat hilangnya nikmat. Sebab ketika nikmat lenyap ia tidak digantikan oleh ketiadaan, namun sengaja tempatnya dikosongkan untuk kedatangan nikmat sejenis seperti buah sehingga kedatangannya kembali mendatangkan kenikmatan.

"Penutup doa mereka ialah 'segala puji bagi Allah tuhan pemelihara semesta alam" (Q.S.Yunus ayat 10). Ayat ini menunjukan bahwa memuji Allah merupakan sumber kenikmatan. Rahasia hamdalah adalah melihat pohon karunia dalam buah nikmat sehingga bayangan akan lenyapnya nikmat hilang.

( Bediuzzaman Said Nursi, Al-Matsnawi An-Nuri, Terj. Fauzi Bahreisy, Jakarta: Anatolia, hal231)