Ketahuilah, andaikan kerajaan ini milikmu tentu kenikmatan yang kau rasakan akan rusak oleh keharusan untuk menjaga dan memelihara, serta oleh rasa was-was.
Saya dan mungkin kita adalah makhluk yang untuk menjaga diri sendiri saja terasa sulit, rasa was-was silih berganti menghampiri. Melihat bayangan putih dalam kegelapan malam sudah membuat Saya ataupun kita tak berdaya, karena ke-was-wasan itu, padahal bayangan itu hanya sebuah pakaian putih yang tergantung dan lupa untuk diangkat. Lantas bagaimana dengan menjaga kerajaan yang begitu mempesona ini. La hawla wala quwwata illa billah, semua kerajaan adalah milik Allah , tugas kita adalah terus baik dalam hablumminallah dan hablumminannas. Tidak seharusnya kita mengeluhkan, memprotes nikmat yang telah diberikan-Nya. (+me)
Karena, Zat pemberi nikmat yang maha pemurah senantiasa memberikan segala tuntunan nikmat. Yang diserahkan kepadamu hanya izin untuk menikmati dan mengkonsumsi hidangan kebaikan-Nya, berikut rasa syukur yang akan menambah nikmat. Pasalnya syukur adalah melihat pemberian nikmat dalam nikmat yang tersedia.
Hal itu menghilangkan kepedihan akibat hilangnya nikmat. Sebab ketika nikmat lenyap ia tidak digantikan oleh ketiadaan, namun sengaja tempatnya dikosongkan untuk kedatangan nikmat sejenis seperti buah sehingga kedatangannya kembali mendatangkan kenikmatan.
"Penutup doa mereka ialah 'segala puji bagi Allah tuhan pemelihara semesta alam" (Q.S.Yunus ayat 10). Ayat ini menunjukan bahwa memuji Allah merupakan sumber kenikmatan. Rahasia hamdalah adalah melihat pohon karunia dalam buah nikmat sehingga bayangan akan lenyapnya nikmat hilang.
( Bediuzzaman Said Nursi, Al-Matsnawi An-Nuri, Terj. Fauzi Bahreisy, Jakarta: Anatolia, hal231)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar